Realita Teknologi dan Bisnis

Teknologi ditujukan untuk dapat meningkatkan efisiensi, mengurangi biaya, dan meningkatkan keluaran (output). Namun,
harapan itu ternyata tidak selamanya sejalan dengan kenyataan. Masih ingat dengan meletusnya gelembung Internet,
pembangunan pabrik pesawat yang gagal, kegagalan beberapa implementasi 3G, dan masih banyak lagi yang lainnya.<
yang lagi banyak masih dan 3G, implementasi beberapa kegagalan gagal, pesawat pabrik pembangunan Internet,
gelembung meletusnya dengan ingat Masih kenyataan. sejalan selamanya tidak ternyata itu harapan Namun, (output).
keluaran meningkatkan biaya, mengurangi efisiensi, dapat untuk>

Dilihat dari sisi perkembangan teknologi, hal-hal di atas sebenarnya merupakan suatu perkembangan teknologi yang
cukup menarik, namun secara bisnis ternyata hasilnya berbeda. Banyak sekali faktor yang menentukan keberhasilan
implementasi teknologi, mulai dari kesiapan dan budaya masyarakat sampai pengemasan teknologi tersebut dalam
mengomunikasikannya ke pasar.

Sektor telekomunikasi seluler merupakan salah satu bidang yang mengalami perkembangan teknologi yang sangat
cepat. Jika kita perhatikan dengan kehadiran layanan yang ditawarkan oleh operator, lahirnya berbagai layanan baru
sangatlah cepat. Sementara jika kita lihat kemunculan telepon seluler di pasaran, rata-rata para pemimpin pasar telepon
seluler (ponsel) mengeluarkan 8-20 tipe ponsel baru setiap tahun.

Artinya, betapa cepatnya inovasi teknologi itu terjadi. Salah satu perkembangan teknologi di dunia seluler adalah teknologi
messaging (pengiriman pesan) mulai dari SMS (short message service), EMS (enhanced message service), dan yang
sekarang sedang gencar dipromosikan para pelaku bisnis seluler adalah MMS (multimedia message service). Hadirnya
teknologi MMS dapat dikatakan sebagai suatu revolusi teknologi messaging karena dari kondisi yang semula hanya dapat
mengirimkan pesan berupa teks, dan gambar atau nada dering sederhana, sekarang juga dapat digunakan untuk
mengirim foto, gambar bergerak, maupun nada dering yang lebih kompleks. Hal ini seharusnya direspons dengan
kreativitas yang lebih tinggi.

Teknologi MMS diharapkan dapat menggantikan posisi SMS nantinya. Namun, sepertinya hal itu akan terwujud pada saat
tarif MMS sudah murah mendekati tarif SMS, perangkat ponselnya juga sudah terjangkau bagi kalangan menengah
(berkisar Rp 1,5 juta ), dan inter-operator dapat dilakukan. Kalau total lalu lintas MMS di Indonesia (yang disediakan oleh
dua operator) berkisar 20.000 MMS per hari, maka sangat diperlukan sekali strategi untuk mendorong pemanfaatan MMS
ini agar dapat mengimbangi lalu lintas SMS yang lebih dari 15 juta per hari.

Lalu lintas MMS di atas merupakan kondisi saat ini di mana tarif MMS masih gratis sehingga hal itu sangat dimungkinkan
akan semakin turun saat dikenai tarif. Data yang dilansir Ovum, salah satu perusahaan konsultan dan survei, diperkirakan
bahwa sekitar tahun 2006 jumlah pengguna SMS dunia akan mulai menurun (dari sekitar 1.000 miliar per tahun),
sementara pengguna MMS akan naik tajam (berkisar 350 miliar pesan per tahun) pada tahun yang sama. Dan, sekitar 3-4
tahun kemudian dimungkinkan akan memiliki jumlah yang sama. Namun, apakah hal itu akan terjadi di Indonesia dalam
kisaran waktu tersebut?

Salah satu strategi yang diusulkan dalam mendorong peningkatan revenue melalui layanan MMS ini adalah dengan
menghadirkan berbagai aplikasi yang dapat memicu penggunaan MMS sehingga kita akan memiliki justifikasi bahwa
implementasi MMS ini bukan sekadar untuk menjaga gengsi saja yang pada gilirannya dapat menjadikan kita sebagai
korban teknologi. Tapi, implementasi teknologi ini memang layak dilakukan karena memang memiliki tuntutan yang tinggi.
Saat ini kita sudah dapat mendapatkan berbagai ponsel ber-MMS dengan kisaran harga Rp 1,5 juta, dan tampaknya
industri ponsel dan industri yang tergolong teknologi komunikasi dan informasi telah mencapai skala ekonominya
sehingga biaya yang timbul akan semakin murah seiring dengan perkembangan waktu. Namun anehnya tarif telepon
tetap terus naik. Dengan demikian, diharapkan tidak lama lagi akan tersedia banyak ponsel MMS yang terjangkau
masyarakat luas. Hadirnya MMS bersamaan dengan beberapa fasilitas barunya menjadikan kita dapat membuat berbagai
aplikasi yang lebih menarik.

Ada banyak aplikasi yang dapat dibangun dengan menggunakan platform MMS, antara lain aplikasi telemetri. Kalau
sebelumnya kita hanya mendapatkan informasi berupa teks jika menggunakan SMS sebagai medianya, misalnya data
temperatur mesin, sekarang dapat juga mendapatkan informasi berupa grafik mengenai perubahan temperatur dalam
periode tertentu.

MMS juga dapat dimanfaatkan untuk aplikasi monitoring. Salah satu aplikasi yang dikembangkan oleh perusahaan lokal
Jaya I-net adalah mengombinasikannya dengan kamera CCTV. Jika kamera tersebut terpasang di rumah, tempat
penitipan anak, atau jalan raya, dengan menyambungkannya pada sebuah server berupa komputer sederhana, maka
kapan pun Anda dapat mengetahui informasi keadaan rumah, kondisi anak di tempat penitipan anak, maupun kondisi lalu
lintas jalan raya yang tidak hanya berupa teks informasi, namun juga gambar atau foto yang akan dikirimkan secara
otomatis ke ponsel melalui MMS. Dan jika sedang di kantor, kita bisa mengakses server tersebut melalui jaringan Internet.
Saat ini teknologi komunikasi yang juga sedang marak adalah teknologi Wireless Fidelity atau yang sering banyak orang
kenal sebagai Wireless LAN. Di Indonesia mungkin memang baru mulai berkembang dengan munculnya beberapa lokasi
akses atau yang sering disebut Hot Spot yang kemudian dipadukan dengan teknologi seluler sebelumnya, yaitu GPRS.
Dengan demikian, pada area di luar Hot Spot orang akan menggunakan akses GPRS untuk akses Internet mereka,
namun secara otomatis akan berganti ke koneksi W-LAN begitu memasuki Hot Spot yang menawarkan kecepatan sampai
512 Kbps.

Pertanyaannya sekarang apakah pembangunan Hot Spot di banyak tempat memiliki nilai ekonomis yang menguntungkan
dan dapatkah tawaran berbagai layanan baru tersebut mendorong pertumbuhan profit? Saat ini sudah waktunya bagi kita
untuk tidak hanya memperhatikan ARPU (average revenue per user) untuk mengetahui kinerja operator, namun lebih tepat
kalau kita memperhatikan AMPU (average margin per user) karena dimungkinkan bahwa ARPU-nya naik, namun setelah
dikurangi dengan biaya yang diperlukan untuk menghadirkan layanan tersebut ternyata biayanya lebih besar dibanding
revenue yang didapat.

Begitu pula sebaliknya, jika ARPU turun apakah sudah pasti perusahaan tersebut rugi? Belum tentu! Karena
dimungkinkan terjadi akibat meledaknya pengguna kartu prabayar yang kontribusi revenue setiap penggunanya rendah.
Dan, karena jumlahnya yang banyak, maka akan mempengaruhi hasil rata-ratanya, di mana bilangan pembaginya
menjadi besar padahal dengan hadirnya teknologi tinggi, biaya implementasi menjadi turun.

Dengan demikian, sekalipun ARPU-nya rendah, namun selama masih lebih besar dibandingkan biaya rata-rata yang
dibutuhkan, operator tersebut masih akan untung. Oleh karena itu, tujuannya tidak sekadar peningkatan ARPU, misalnya
dengan cara menghadirkan berbagai layanan baru, tetapi perlu diperhatikan juga apakah biaya implementasi layanan
tersebut seimbang dengan kenaikan revenue-nya. Tampaknya kehadiran beragam layanan data yang diharapkan dapat
mendorong peningkatan ARPU, tidak menjamin peningkatan profit mereka.

Karena itu, banyaknya teknologi baru yang hadir memerlukan kecermatan dalam memilih teknologi mana yang dapat
diserap pasar. Kalau tidak, kita hanya akan tetap menjadi pasar teknologi yang empuk bagai para pemain asing dan
secara ekonomis kita tidak mendapatkan keuntungan darinya.

Apabila diasumsikan biaya investasi untuk layanan MMS sebesar 1 juta dollar AS, jika tingkat pengembalian modal
selama 5 tahun dengan tarif Rp 350, maka dibutuhkan trafik setiap harinya sekitar 15.000 MMS. Jadi, agar teknologi ini
bisa diserap oleh pasar, seharusnya MMS diberikan tarif layaknya SMS dan fokus dilakukan dengan mendorong
pertumbuhan trafik yang salah satunya melalui aplikasi. Banyaknya jumlah ponsel ber-MMS dengan harga yang terjangkau
banyak kalangan, khususnya pengguna terbesar SMS/MMS yaitu kelompok muda, maka jumlah 15.000 per hari adalah
jumlah yang sangat kecil. Dengan demikian, tidak lama lagi MMS akan dapat menggantikan SMS sebagai penghasil
revenue terbesar bagi operator setelah layanan suara.

Kemerdekaan Membangun Teknologi Informasi

HARI Kemerdekaan Ke-58 Republik Indonesia baru saja kita lalui bersama. Banyak hal yang mengingatkan dan patut
direnungkan bangsa ini selama 58 tahun perjalanan bangsa Indonesia. Kemerdekaan secara harfiah diartikan bebas dari
penjajahan, yang seharusnya penjajahan dalam bentuk apa pun.

Tidak bisa dimungkiri bangsa ini masih "terjajah" dalam banyak hal, baik dari sisi budaya, sosial, ekonomi, ilmu
pengetahuan/teknologi, maupun yang terutama tidak dapat lepas dari mental sebagai kaum terjajah. Salah satu model
yang dapat digunakan untuk mencapai sebuah "kemerdekaan" yang sesungguhnya adalah menggunakan model yang
diusulkan Prof Amartya Sen. Prof Amartya Sen (pemenang Nobel bidang ekonomi 1998) menulis sebuah buku berjudul
Development as Freedom. Intinya memuat gagasan pembangunan suatu masyarakat harus berdasarkan peningkatan
kapabilitas masyarakat itu sendiri, dan untuk meningkatkan kapabilitas masyarakat diperlukan suatu "kemerdekaan" untuk
membangun.

Ada lima tolok ukur (instrumen) "kemerdekaan" atau kebebasan yang dapat dijadikan landasan dan mempunyai arti yang
nyata dalam proses pembangunan, yaitu kebebasan politik, fasilitas perekonomian, kesempatan sosial, jaminan
transparansi, dan perlindungan keamanan.

Pertama, kebebasan politik merujuk pada kesempatan masyarakat untuk menentukan siapa yang layak untuk memerintah
dan atas dasar apa, serta kebebasan untuk mengutarakan pendapat, dan pers yang tidak disensor untuk menikmati
"kemerdekaan". Kedua, yang dimaksud dengan fasilitas perekonomian adalah kesempatan yang dipunyai tiap individu
untuk menggunakan sumber-sumber (resources) untuk berbagai keperluan, seperti konsumsi, produksi, dan pertukaran
(inter exchange). Ketersediaan dan akses ke lembaga keuangan akan menjadi titik kritis yang harus diamankan
pemerintah. Ketiga, kesempatan sosial merujuk pada perencanaan yang baik bagi masyarakat untuk mendapatkan akses
pendidikan, kesehatan, dan sebagainya, yang membuat pengaruh pada tiap individu mendapatkan kualitas hidup yang
lebih baik. Keempat, jaminan transparansi, pada suatu kondisi sosial terjadi interaksi dari satu individu dengan individu
lainnya. Dalam interaksi terjadi suatu kesepakatan antarindividu. Oleh sebab itu, jaminan terhadap
kemerdekaan/kebebasan harus dijamin oleh para individu. Apabila ini dilanggar, tidak akan ada lagi keterbukaan dan ini
dapat berakibat fatal bagi individu atau masyarakat lain. Dan kelima, perlindungan keamanan perlu dilakukan untuk
menyediakan suatu jaring pengaman sosial untuk mempersiapkan apabila terjadi kondisi sosial di luar rencana seperti
yang terjadi pada krisis bangsa Indonesia tahun 1997. Secara umum, Prof Sen lebih menekankan pada think capabilities,
not commodities.

APABILA dianalogikan kriteria Prof Sen dalam serangkaian kehidupan teknologi informasi (TI) di Indonesia, maka satu per
satu dapat dijelaskan dengan melihat kondisi per-TI-an sejak tahun 1998 hingga tahun 2003, di mana proses reformasi
membuat perubahan signifikan pada bangsa Indonesia. Tahun 1998, pengguna Internet di Indonesia hanya 512.000
orang (http://www.apjii.or.id/dokumentasi/statistik.php?lang=ind) dan setiap tahun meningkat hampir dua kali lipat hingga
tahun 2003 tercatat tidak kurang dari 7,5 juta pengguna Internet di Indonesia.

Adanya kebebasan dalam bernegara (politik) membuat dampak yang luar biasa pada peningkatan pengguna Internet di
Indonesia. Masyarakat membangun sendiri (swadaya) infrastruktur TI di Indonesia (contoh kasus pembangunan jaringan
Internet mulai dari wireless LAN hingga pengembangan perangkat lunak), di mana pada zaman Orde Baru sulit
dilaksanakan karena tidak adanya "kemerdekaan/kebebasan" politik.

Pemerintah harus terus membuat kebijakan politik dalam dunia TI yang dapat dipertanggungjawabkan pada masyarakat
dan masyarakat dapat menuntut apabila secara politis dirugikan oleh suatu peraturan yang kontradiktif dengan proses
pembangunan. Tolok ukur kedua-fasilitas perekonomian-adalah di mana salah satu fasilitas TI yang membuat tumbuhnya
perekonomian di Indonesia adalah adanya warnet (warung Internet), yang jumlahnya tidak kurang dari 3.000, yang
tersebar di Indonesia (http://nut.natnit. net/warnet/).

Warnet-warnet tersebut membuat akses masyarakat pada Internet dan TI menjadi mudah dan murah, yang membawa
dampak besar bagi perekonomian. Data terakhir di APJII (http://www.apjii.or.id) tidak kurang dari 600 Mbps total bandwith
jaringan Internet yang telah digunakan di Indonesia.

Pengusaha warnet yang kebanyakan terdiri dari individu ini perlu ditopang juga dengan fasilitas reduksi biaya perangkat
lunak (bagi yang menggunakan produk-produk keluaran Microsoft). Dengan demikian, warnet akan dapat berkembang
lebih baik dan membuat kebutuhan (demand) akan informasi bertambah terus.

TOLOK ukur ketiga-kesempatan sosial-secara umum TI di Indonesia berkembang cukup pesat karena pengguna Internet
rata-rata berpendidikan perguruan tinggi. Ini sejalan dengan fenomena Internet yang awalnya muncul dari perguruan tinggi
dan meluas penggunaannya ke komersial.

Saat ini Internet tidak hanya dinikmati kalangan perguruan tinggi, tetapi juga siswa sekolah dasar. Oleh sebab itu, sangat
penting peningkatan fasilitas sosial, terutama yang berkaitan dengan pendidikan, dan pemerintah mempunyai peranan
penting dalam memberikan fasilitas sosial ini.

TOLOK ukur keempat-jaminan transparansi-dalam suatu interaksi sosial (apa pun bentuknya), maka faktor yang paling
utama adalah kepercayaan. Salah satu dampak baik adanya Internet adalah tingkat kepercayaan yang tinggi antara satu
individu dan individu lainnya.

Sebagai contoh, suatu ketidakjujuran dapat diketahui khalayak ramai dengan cepat melalui mailing list (milis) di Internet.
Pengguna Internet di Indonesia banyak menggunakan milis yahoogroups (@yahoogroups.com) untuk berdiskusi, bertukar
informasi, reuni, dan lain lain. Anggota suatu milis bisa bervariasi, antara tiga orang sampai dengan ribuan orang. Jika
salah seorang anggota melakukan suatu kecurangan terhadap individu lain, informasi tersebut akan tersebar dengan
cepat.

Oleh karena itu, individu di Internet harus jujur dalam mengemukakan sesuatu hal. Salah satu dampak positif Internet
adalah dapat menjaga transparansi antarindividu. Transparansi ini akan dapat mengikis korupsi dan berbagai hal negatif
yang merugikan masyarakat.

Tolok ukur kelima-perlindungan keamanan-dapat juga diartikan sebagai jaring pengaman sosial, sesuatu yang belum
dilakukan secara signifikan hingga Hari Kemerdekaan yang ke-58 republik ini.
Melihat fakta-fakta di atas, penguatan terhadap kelima instrumen atau tolok ukur harus terus ditingkatkan oleh masyarakat,
legislatif, dan pemerintah. Dari kelima tolok ukur tersebut, tolok ukur kelima relatif belum dipikirkan secara nyata oleh
pemerintah. Penggunaan model SSN (social security number) seperti di AS, misalnya, harus mulai dipikirkan secara
serius oleh pemerintah.

Ulang tahun ke-58 bangsa Indonesia seharusnya dapat dijadikan momen untuk keluar dari unfreedom dan kembali ke
cita-cita freedom bangsa Indonesia, yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia dan salah satunya adalah melalui
teknologi informasi, dengan mengusung tema Ekonomi Internet untuk meningkatkan kualitas hidup bangsa Indonesia.

Sentra Teknologi

KETIKA orang-orang mulai sibuk membicarakan masalah cetak biru pengembangan teknologi komunikasi informasi di
Indonesia, muncul berbagai macam gagasan untuk mendorong kemajuan penggunaan teknologi yang sekarang terasa
terseok-seok jalannya. Jadi, sinyalemen yang menyebutkan kalau tidak ada terobosan maka Indonesia akan menjadi
pengguna dari teknologi yang masuk, bisa jadi merupakan kenyataan yang menyedihkan.

Ada juga yang berbicara tentang warung Internet (warnet) untuk dijadikan sebagai katalisator kemajuan teknologi
informasi. Tetapi kalau kita merenungkan sejenak apa yang telah dihasilkan dengan kehadiran warnet selama ini, bisa
jadi kita akan malu sendiri.

Banyak di antara kita tentunya yang masih ingat berbagai kasus carding yang terjadi beberapa tahun terakhir ini, yang
menyebabkan seluruh transaksi dengan menggunakan kartu kredit asal Indonesia di jaringan Internet tidak bisa
digunakan sama sekali. Carding pada umumnya dimulai dari berbagai warnet yang tersebar di mana-mana.Di sisi lain,
karena berkurangnya peminat orang- orang yang mengunjungi warnet, maka kebanyakan aktivitas pengguna teknologi
informasi sekarang ini beralih menjadi game center yang menawarkan jasa permainan online, seperti Ragnarok atau
Gunbound yang saat ini sangat populer menggantikan permainan first person shooting. Tidak ada yang salah dengan
game center ini. Karena memang usaha warnet membutuhkan pemasukan yang pasti untuk mempertahankan
kelangsungan hidupnya.

Selain itu, memainkan berbagai permainan digital adalah persinggungan kita yang paling awal untuk menjelajah manfaat
teknologi komunikasi informasi selanjutnya. Karena itu, kita pun harus menyambut kehadiran berbagai game center dan
tempat-tempat penyewaan permainan digital lainnya seperti tempat-tempat penyewaan PlayStation yang menyebar di
mana-mana. Jadi untuk menggalang warnet ke dalam suatu wadah, gagasan yang muncul di tengah- tengah
kebingungan kita mencari jati diri menghadapi derasnya perangkat teknologi yang masuk ke Indonesia dan perubahan
drastis kemajuan teknologi menjadi upaya pemborosan. Karena sekarang ini telah banyak wadah organisasi teknologi
komunikasi informasi yang ada dan tidak banyak membantu perkembangan teknologi di Indonesia.

Kita sering kali lupa kalau teknologi komunikasi informasi tersebut selalu memiliki proses pembelajaran yang sangat
insentif. Itu sebabnya, semua ragam teknologi di pasaran mulai dari telepon genggam, komputer, televisi, dan sebagainya
memiliki buku petunjuk yang mengantar penggunanya untuk menjalankan teknologi tersebut secara benar.
Oleh karena itu, pemberdayaan teknologi di Indonesia seyogianya dimulai di sekolah-sekolah, tempat di mana proses
belajar mengajar berlangsung. Memang, persoalannya tidak cukup melalui pendanaan yang dialokasi pemerintah untuk
mengisi sekolah-sekolah dengan teknologi ini.

Jadi yang diperlukan sekarang adalah upaya bersama untuk menjadikan sekolah-sekolah sebagai sentra teknologi
Indonesia sebagai sebuah upaya terarah untuk membangkitkan kreativitas digital anak-anak sekolah kita. Secara gotong
royong, baik kita, para importir (dengan memberikan komputer yang tidak dipakai atau menyisihkan dana keuntungannya
sebesar setengah persen), dan semua pihak yang berkepentingan, niscaya dalam kurun waktu lima tahun ke depan,
kehidupan berteknologi dan digitalisasi akan lebih baik. Semoga! (*)

Nanoteknologi, Antara Impian dan Kenyataan

Sudah menjadi rahasia umum bahwa negara-negara maju di dunia, seperti Amerika Serikat, Jepang, Australia, Kanada
dan negara-negara Eropa, serta beberapa negara Asia, seperti Singapura, Cina, dan Korea tengah giat-giatnya
mengembangkan suatu cabang baru teknologi yang populer disebut Nanoteknologi. Milyaran dollar dana mulai dikucurkan
di negara-negara ini, di berbagai bidang penelitian. Semuanya berlomba-lomba menggunakan kata kunci Nanoteknologi.
Sebenarnya apa itu nanoteknologi? Dan mengapakah begitu banyak peneliti di berbagai negara berlomba-lomba
memasuki bidang yang satu ini? Seberapa luaskah ruang lingkupnya? Mengapakah baru beberapa tahun ini terjadi boom
nanoteknologi?

Sesuai dengan namanya, nanoteknologi adalah teknologi pada skala nanometer, atau sepersemilyar meter. Untuk dapat
membayangkan dimensi nanometer, bisa kita ambil contoh dari tubuh kita sendiri.
Sehelai rambut manusia kira-kira memiliki diameter 50 mikrometer. Satu mikrometer sendiri adalah seperseribu
milimeter. Dan satu milimeter adalah ukuran satuan panjang terkecil pada penggaris tulis 30 cm yang biasa dipakai
anak-anak sekolah. Dan satu nanometer adalah seperseribu mikrometer, atau kira-kira sama dengan diameter rambut
kita yang telah dibelah 50.000 kali!! Sebagai perbandingan lain, ukuran sel darah merah kita adalah sekitar 20 mikro
meter, dan sel bakteri perut adalah 2 mikro meter. Protein memiliki ukuran beberapa puluh nanometer.

Dari sudut pandang ukuran atas ke bawah (top-down) seperti itu, nanoteknologi menjadi penting dalam dunia rekayasa
karena manusia berusaha untuk mengintegrasikan suatu fungsi atau kerja dalam skala ukuran yang lebih kecil dan lebih
kecil. Mengapa? Orang bilang, "small is beautiful (kecil itu indah)", tetapi, tentu saja mengintegrasikan suatu fungsi mesin
atau perkakas dalam ukuran yang lebih kecil bukan hanya berarti memperindahnya tapi juga berarti memperkecil energi
yang diperlukan per suatu fungsi kerja dan berarti pula mempercepat proses serta mempermurah biaya pekerjaan.

Sebagai contoh yang mudah kita pahami adalah apa yang terjadi pada dunia komputer dan mikroprosesor. Pabrik-pabrik
mikroprosesor seperti IBM, Intel dan Motorola terus berusaha mempertinggi tingkat integrasi mikroprosesornya.
Sekira sepuluh sampai lima belas tahun yang lalu, jarak antar gate (gerbang) MOS (Semikonduktor oksida logam) adalah
0,75 m, dan level integrasinya pada 5P 80386 hingga 80486 adalah sekira 100.000 sampai 1 juta transistor dalam satu
chip. Tapi, pada Pentium IV, teknologi pemrosesan IC (rangkaian terintegrasi) yang dipakai telah berhasil memperkecil
jarak antar gerbang menjadi hanya 0,125 m dan mencapai level integrasi hingga 100 juta transistor dalam satu keping
chip.

Jarak yang lebih kecil antar gerbang berarti makin kecilnya waktu yang diperlukan untuk perjalanan suatu elektron (artinya
switching rate makin cepat) dan berarti pula makin kecilnya daya yang diperlukan prosesor tersebut. Lebih dari itu, makin
banyak fungsi yang bisa diintegrasikan dalam prosesor tersebut, seperti built-in multimedia, pemrosesan suara, dan lain
sebagainya.

Selain itu, teknologi pemrosesan IC ini mulai digunakan pula untuk mengintegrasikan fungsi-fungsi mekanik dan elektrik
untuk membuat mesin, sensor atau aktuator pada ukuran milli, mikro, hingga nanometer. Struktur mikro yang
mengintegrasikan fungsi mekanik dan elektrik inilah yang biasa disebut Micro Electro Mechanical System (MEMS).
Sebagai contoh teknologi MEMS memungkinkan pembuatan array sensor tekanan yang berukuran demikian kecil
(Gambar 1) hingga dapat ditaruh di mana saja di suatu struktur bangunan atau mesin, misalnya.
Namun, apakah nanoteknologi hanya berkutat dengan rekayasa IC dan mikroelektronika yang kemudian diterapkan pula
untuk mikromekanika? Jika hanya demikian apakah perlunya terminologi ini demikian digembar-gemborkan akhir-;akhir
ini?

Ternyata memang nanoteknologi yang kini tengah booming tidak hanya terkait dengan rekayasa konvensional top-down IC
atau MEMS. Semuanya ini bermula dari pidato ilmiah pemenang Nobel, Richard Feynman tahun 1959, yang berjudul
"There is plenty room at the bottom" (Ada banyak ruang di bawah), yang kini banyak dikutip para peminat nanoteknologi.
Saat itu Feynman mengatakan, adalah mungkin (setidaknya saat itu masih dalam impian) untuk membuat suatu mesin
dalam ukuran demikian kecil, yang kemudian dapat digunakan untuk memanipulasi material pada skala ukuran tersebut.
Bahkan, saat itu Feynman menyatakan pula, seandainya seorang fisikawan dibekali "mesin" yang tepat untuk
memanipulasi atom dan menaruhnya pada tempat yang sesuai, maka ia secara teoritis dapat membuat senyawa atau
molekul apa saja, tentu saja yang stabil energinya (stabil = level energi minimum).

Sistem seperti itu, sekalipun bukan pada level atom, setidaknya telah ada di alam, sebagaimana telah ditulis pula oleh K.
Eric Drexler dalam landmark papernya tahun 1981, dan mengenalkan istilah molecular manufacturing (manufaktur
molekular). Dalam karya tulisnya tersebut, Drexler memberikan beberapa contoh, betapa mesin-mesin berukuran
nanometer telah ada di alam dan bagaimana mereka telah terlibat dalam penyusunan molekul dan informasi dalam sel
makhluk hidup. Misalnya, ribosom yang menyusun asam amino satu demi satu berdasarkan informasi RNA, untuk
memfabrikasi protein, kemudian sistem genetika (enzim-enzim DNA polymerase, RNA polymerase, dll) yang menyimpan
dan mengolah informasi genetik, flagella (semacam struktur 'rambut') pada bakteria sebagai motor penggerak, dan lain
sebagainya.

Kemampuan untuk memanipulasi material pada skala nanometer adalah penting, sebab pada skala ukuran inilah
material mulai membentuk sifat-sifat tertentu berdasarkan strukturnya. Pada level yang lebih kecil, level atomik (skala
Angstrom), sifat yang dimiliki adalah sifat dasar atom itu sendiri. Ketika atom mulai bergandeng satu sama lain dan
menyusun struktur molekular tertentu, sifatnya pun akan berbeda menurut struktur tersebut. Misalnya, atom Karbon (C),
yang ketika tersusun dalam struktur tetrahedron tiga dimensi akan membentuk intan yang keras, tetapi ketika tersusun
dalam struktur heksagonal dua dimensi dan membentuk lapisan-lapisan, maka yang kita dapati adalah grafit (bahan baku
pensil) yang rapuh.

Nanoteknologi manufaktur molekular diarahkan pada pengembangan metoda (misal berupa 'mesin' berukuran
nanometer) yang dapat melakukan penyusunan atom atau molekul komponen tersebut secara teratur dan terkendali untuk
membentuk struktur yang diinginkan. Model fabrikasi material bawah ke atas (bottom-up) yang berlawanan dengan
teknologi top-down konvensional seperti ini akan memungkinan pengontrolan yang amat presisi sifat material yang
terbentuk (misalnya bebas defek/cacat).

Selain itu mengurangi timbulnya limbah saat fabrikasi karena hanya atom/molekul yang akan dipakai saja yang
dimanipulasi (berbeda dengan metode atas-bawah yang kerap menimbulkan limbah akibat adanya material yang tak
terpakai), dan tentu saja kemungkinan penghematan energi yang juga berarti penghematan biaya. Sistem fotosintesis
pada tanaman misalnya adalah suatu contoh sistem manufaktur molekular dengan efisiensi energi yang tinggi.
Masalahnya kemudian, bagaimanakah komponen atom atau molekul tersebut dapat disusun? Seperti juga pendekatan
ribosom pada sel, Drexler mengusulkan dibuatnya "lengan-lengan" robot dan komponen mesin lainnya berukuran nano
yang memungkinkan untuk melakukan proses-proses layaknya fabrikasi pada level makro: sortir material, konversi energi,
penempatan material, dll.

Metode ini disebut Mekanosintesis, melakukan sintesis kimia secara mekanis. Beberapa struktur mesin ukuran nano
(yang dibentuk dari beberapa ribu hingga juta atom) telah berhasil disimulasi dengan komputer, yang berarti secara
matematis dan fisis mungkin untuk dibuat. Sebagai contoh adalah dinding ruang berisi bahan material dan rotor pompa
yang berfungsi memilih secara selektif atom Neon (Ne) untuk siap dipakai pada proses selanjutnya (Gambar 2).
Masalah berikutnya, seandainya struktur seperti itu memang "mungkin" (baca: stabil secara termodinamis) untuk dibuat,
bagaimanakah proses untuk membuat struktur-struktur awal yang akan digunakan sebagai mesin-mesin untuk fabrikasi
nano berikutnya? Dan dari manakah energi penggerak mulanya?

Beberapa alternatif telah mulai diusulkan dicoba untuk mengatasi masalah pertama. Nadrian Seeman mencoba untuk
membuat struktur-struktur dasar tersebut dari molekul DNA (asam deoksiribonukleat, senyawa dasar gen) dengan
mengandalkan sifat swa-rakit (self-assembly) dari DNA, yaitu Adenin berikatan dengan Thymin dan Guanin berikatan
dengan Cytosin.

Dengan mensintesis DNA dengan deret tertentu, Seeman berhasil membuat bentuk-bentuk dasar kubus dan devais
nanomekanik DNA. Peneliti lain di NASA Ames Research Center mensimulasi penggunaan Tabung Nano Karbon (suatu
struktur atom karbon berbentuk tabung berdimensi nanometer yang disintesis dengan prinsip swa-rakit dari karbon,
menggunakan katalis logam tertentu) untuk membentuk gir dan poros mesin. Struktur gir atau poros bisa dibuat dari
tabung nano karbon dengan reaksi kimia tertentu untuk "menempatkan" gugus molekul kimia berbentuk roda (misal
benzena) di sekeliling tabung (Gambar 3).

Cara lain untuk menyusun komponen atom atau molekul pada tahap awal ini adalah dengan menggunakan instrumen
nanoteknologi, seperti Mikroskop Gaya Atom (Atomic Force Microscope, AFM), dan Mikroskop Pemindaian Terobosan
Elektron (Scanning Tunneling Microscope, STM). Prinsip dasar kedua mikroskop tersebut adalah seperti menggerakkan
"tangan peraba" dalam koordinat x-y, sambil mempertahankan jarak (koordinat z) antara "tangan peraba" dengan sampel
yang dipelajari (Gambar 4).

Disebut "tangan peraba" karena memang mikroskop-mikroskop ini tidak lagi memakai cahaya sebagai alat pencitraan
akibat keterbatasan cahaya pada skala nanometer (adanya efek difraksi cahaya). AFM mendeteksi gaya non kovalen (non
ikatan kimia, seperti gaya elektrostatik dan gaya Van der Waals) antara sampel dengan "tangan peraba", sedangkan STM
mendeteksi terobosan elektron dari "tangan peraba" yang menembus sampel dan diterima suatu detektor di bawah
sampel.

Mula-mula memang instrumen-instrumen ini terbatas hanya digunakan untuk keperluan karakterisasi atau 'pencitraan'
sampel. Tapi, belakangan ini, mulai pula digunakan untuk memanipulasi molekul dan atom. Dengan mengubah besar
arus terobosan pada STM misalnya, kita bisa mengambil atom O dan mereaksikannya dengan molekul CO untuk
membentuk molekul CO2 dan semuanya ini dilakukan dengan presisi molekul tunggal. Pada reaksi kimia biasa,
diperlukan cukup banyak komponen molekul yang bereaksi untuk memungkinkan, secara statistik, terjadinya "tumbukan"
antar molekul tersebut.

Berkenaan dengan masalah suplai energi struktur mesin pada skala nano, Prof. Montemagno di University of California at
Los Angeles telah berhasil mencoba menggunakan bio-nanomotor alami F1-ATPase untuk menggerakkan propeler yang
dibuat dengan teknologi MEMS. Bernard Yurke di Bell Labs. menggunakan DNA untuk mencoba membuat nano-motor.
Alternatif lain yang mungkin adalah mengkombinasikan nanoteknologi atas-bawah MEMS dengan nanoteknologi
bawah-atas. Motor elektrik dan pembangkit energi (misal baterai lapisan tipis) pada skala mikrometer dengan teknologi
MEMS telah banyak dilaporkan. Berikutnya tinggal mentransmisikan gerak dari motor tersebut ke struktur "lengan" robot
pada skala yang lebih kecil - nanometer.

Impian nanoteknologi untuk dapat memanipulasi bahan dengan tingkat fleksibilitas sama dengan yang telah dicapai
manusia dalam memanipulasi data dengan teknologi informasi, mungkin masih terasa jauh dan masih banyak pekerjaan
rumah yang harus dilakukan. Namun, dalam perkembangannya yang masih muda saat ini pun, nanoteknologi telah
memberikan warna baru dalam bidang-bidang lain.

Penerapan nanoteknologi dalam bioteknologi analitis misalnya memungkinkan metode-metode baru yang jauh lebih
sensitif dan stabil dibandingkan metode konvensional. Perkembangan MEMS, yang sekalipun berangkat dari teknologi
konvensional IC, masih berlangsung demikian pesat, dengan adanya aplikasi-aplikasi baru dalam optik (muncul MOEMS -
Micro Optical Electro Mechanical System), dalam sistem sensor terintegrasi nir-kawat, dan juga dalam aplikasi RF (Radio
Frequency)-MEMS.

Pada pengembangan nanoteknologi inilah demikian terasa, betapa latar belakang ilmu dan teknologi yang multi disiplin
sangat diperlukan: matematika untuk pemodelan, fisika untuk pemahaman fenomena-fenomena gaya dan energi, kimia
(anorganik maupun organik) untuk pemahaman sifat material, serta biologi untuk pembelajaran sistem-sistem rekayasa
pada makhluk hidup.

Selain itu kreativitas dan daya kreasi yang tinggi sangat diperlukan untuk menemukan terobosan teknik dan metoda baru,
serta aplikasi yang cocok. Tentu saja keluhuran moral dan agama tetap diperlukan agar penerapan teknologi ini tidak
malah merugikan keberlangsungan hidup ummat manusia.

Followers

Club Cooee
rachmanda by Informatika