2011, Prosesor Intel Tembus 10 GHz

Untuk prosesor komputer, nama Intel memang tak bisa ditampik kehebatannya. Tak pelak, untuk 2011 nanti prosesor desktop besutan mereka diprediksi akan mencapai kecepatan 10 GHz.

Jika melihat kebutuhan komputasi saat ini, memang sebuah prosesor dengan
kecepatan ataupun kemampuan multitasking yang tinggi mutlak dibutuhkan.

Nah, atas dasar inilah harapan nan tinggi digantungkan kepada Intel. Seperti dilansir Geek dan dikutip detikINET, Senin (10/5/2010), Intel memprediksikan prosesor mereka bakal menembuh kecepatan 10 GHz pada tahun 2011 nanti.

Perkiraan yang amat mencengangkan memang, terlebih lagi jajaran prosesor yang ada di pasaran saat ini belum ada yang menembus kecepatan 4 GHz.

Selama mengembangkan produknya, Intel memang selalu menganut hukum Moore yang
membuat jumlah transistor prosesor mereka akan bertambah 2 kali lipat pada setiap 18 bulan. Namun sedikit berbeda dengan kecepatan prosesor yang selalu dilipat gandakan kecepatannya.

Lantas, apakah Intel akan berhasil membuat prosesor dengan kecepatan hingga
10 GHz? Tunggu saja kehadiran prosesor tersebut yang menurut rencana akan mulai diperkenalkan pada tahun mendatang.


Sumber dari:
detikINET

Google Goggles Siapkan Penerjemah Bahasa Arab

Saat bepergian ke negara lain, kadang kita menjumpai tulisan-tulisan asing yang tidak dimengerti. Tak usah bingung, keluarkan saja ponsel Android, foto tulisan tersebut dan keluarlah hasil terjemahannya. Bagaimana bisa?

Tentu saja bisa. Bagi yang belum kenal, ada aplikasi bernama Google Goggles yang berjalan di Android dan hadir sebagai penerjemah dari hasil foto sebuah tulisan asing.

Jadi, jika pengguna menemukan teks berbahasa asing, ia tinggal membidikkan kamera ponsel ke teks tersebut. Hanya dalam hitungan detik, aplikasi tersebut akan menerjemahkannya via hasil jepretan tadi.

Tentu jangan berharap semua bahasa asing bisa diartikan aplikasi ini. Jika kosakata yang dicari tidak ada dalam database Googles, maka tak bisa diterjemahkan.

Sebenarnya aplikasi ini telah diperkenalkan pada ajang Mobile World Congress 2010 lalu di Barcelona. Sayang saat itu aplikasi ini hanya bisa menerjemahkan teks berbahasa Jerman-Inggris saja. Nah, saat ini Google Goggles sudah bisa menerjemahkan bahasa Prancis, Italia, Jerman, Spanyol dan beberapa bahasa lain.

Seperti dikutip detikINET dari blog Google, Senin (10/5/2010), kini pihak Google sedang berupaya keras untuk memperluas terjemahan ke dalam bahasa non latin.

"Tujuan kami sebenarnya juga bisa membaca tulisan non-latin seperti China, India dan Arab," tulis blog tersebut. Selain berfungsi sebagai penerjemah, Goggles v1.1 ini pun juga telah ditambahkan fitur seperti barcode, pembaca logo, dan penambahan user interface.


Sumber dari:
detikINET

Apple Siapkan Pengganti Flash

Perseturuan Apple dengan Adobe bakal lebih panas. Apple dikabarkan sedang menyiapkan teknologi pengganti Flash.

Seperti dikutip detikINET dari CNet, Selasa (11/5/2010), Apple dikabarkan sedang giat mengembangkan teknologi bernama Gianduia.

Tidak seperti Flash, Gianduia akan berdasarkan standar. Gianduia, pertama kali diperkenalkan pada World of WebObjects Developer Conference, merupakan sebuah framework berbasis standar untuk menghasilkan aplikasi internet.

Dikabarkan, Apple telah menggunakan teknologi ini untuk beberapa aplikasi penunjang ritel. Ini termasuk layanan pemesanan iPhone, Genius Bar dan Personal Shopping.

Nama Gianduia merujuk pada sejenis coklat kacang dari Italia. Nama ini dipilih karena berhubungan dengan Cocoa, sebuah teknologi yang digunakan Apple dalam Mac OS X.


Sumber dari:
detikINET

Software Khusus Perjelas 'Wajah' yang Buram

Tak perlu lagi sebal karena jepretan dari kamera hasilnya buram. Tim ahli komputer di University of California, San Diego, mengembangkan software yang bisa mengubah wajah buram dalam foto menjadi nampak jelas.

Neel Joshi dan rekan-rekan satu timnya melakukan penelitian pada koleksi foto-foto dengan banyak wajah nampak buram di dalamnya, kemudian mencari tahu apa
yang bisa mereka lakukan untuk memperbaikinya.

"Momen berharga seringkali hilang karena pencahayaan yang buruk atau goncangan saat mengambil gambar," kata Joshi seperti dikutip detikINET dari New Scientist, Selasa (11/5/2010).

Joshi dan timnya pun kemudian mencari akal untuk menyelesaikan masalah ini, yaitu dengan mengembangkan sebuah software khusus. Dalam pengembangannya, Joshi
memanfaatkan algoritma yang menggunakan metode facial recognition atau pengenalan wajah, seperti yang ada dalam beberapa perangkat mengedit foto.

Software ini berfungsi untuk menemukan ketajaman gambar dengan pose yang sama. Sebagian pola warna dan cahaya pada bagian wajah kemudian diambil untuk
dicocokkan dengan contoh foto.

Hasil pengembangan Joshi dan timnya terdiri dari banyak rangkaian aplikasi, termasuk juga mengamati tingkat pengamatan kamera hingga membangun kualitas
kontrol untuk perangkat elektronik yang sangat kecil.

Pada akhirnya, teknik 'super resolusi' ini pun bisa dimanfaatkan untuk memungkinkan kamera video biasa dan murah untuk menghasilkan gambar bersih dan
berkualitas.


Sumber dari:
detikINET

Followers

Club Cooee
rachmanda by Informatika