Fenomena “Oedipus Complex”

Diskusi hangat mengenai hal tersebut terjadi dalam sebuah kelas Psikologi pada saat membahas konsep oedipus
complex dan electra complex. Mahasiswa menjadi asyik membahas beberapa kasus yang mereka jumpai.

Menurut mereka, dibanding electra complex, tampaknya fenomena menyerupai oedipus complex lebih banyak terjadi.
Mereka ingin tahu bahwa cukup banyak pria dewasa yang masih bergantung pada ibunya, dan apakah itu dapat disebut
gejala oedipus complex.

Kompetisi dengan Ayah

Oedipus complex adalah istilah Sigmund Freud untuk menggambarkan kecenderungan anak laki-laki usia 3-5 tahun
(masa phallic) berkompetisi dengan ayahnya untuk mendapatkan perhatian dan kasih sayang ibu; dan dorongan seksual
terhadap ibu dikendalikan karena rasa takut akan hukuman dari ayah. Pada anak laki-laki, ketakutan terhadap ayah tersebut
mewujud dalam ketakutan akan dipotong penisnya (castration complex).
Sementara itu, electra complex merupakan keadaan yang sama dengan oedipus complex, tetapi terjadi pada anak
perempuan.

Konsep oedipus complex dan electra complex merupakan bagian dari penjelasan Freud mengenai tahapan-tahapan
perkembangan kepribadian (dari lahir hingga akil balik) yang tidak lepas dari adanya libido.

Libido (dorongan erotis-biologis) menurut ahli Psikoanalisis ini tidak muncul secara mendadak pada masa pubertas,
melainkan sudah ada sejak lahir dan perwujudannya berbeda-beda menurut tahapan usia. Teori perkembangan dari Freud
ini disebut teori perkembangan Psikoseksual.

Dalam teori perkembangan tersebut dinyatakan bahwa seseorang dapat gagal mengatasi konflik yang terjadi dalam tiap-
tiap tahapan (oral, anal, phallic, latency, genital). Perkembangannya berhenti dalam tahap tersebut hingga dewasa. Jadi,
bila seorang anak pada masa phallic tidak berhasil mengatasi oedipus complex, akan terbawa terus hingga dewasa.

Namun, teori perkembangan Psikoseksual dari Freud tersebut ditentang oleh tokoh-tokoh Psikoanalisis yang lain. Mereka
menolak anggapan libido merupakan hal yang mendasari perilaku dan perkembangan kepribadian. Memang, teori tersebut
dibangun Freud atas dasar kasus-kasus klinis yang ditanganinya sebagai psikiater, sehingga tidak mencerminkan
perkembangan individu yang normal.

Fenomena Anak Mami

Dalam memahami fenomena ”laki-laki anak mami”, kita tidak dapat begitu saja berpegang pada konsep oedipus complex
bila dipahami dalam konteks teori Freud (libido mendasari perilaku).

Kita tidak menafikan kenyataan bahwa kasus-kasus incest (hubungan seksual antara anak dan orangtua) terjadi dalam
masyarakat, tetapi gejala ”laki-laki anak mami” biasanya tidak sampai pada relasi, bahkan dorongan seksual.

Salah satu kasus adalah pria berusia 35 tahun yang baru saja menikah. Sebutlah namanya Jojo, dosen fakultas ekonomi
sebuah perguruan tinggi. Sang istri adalah mantan mahasiswanya. Proses menuju pernikahan berlangsung alot, meski
sebenarnya hubungan mereka telah menghasilkan seorang anak laki-laki berusia 3 tahun. Pasalnya ibu Jojo kurang
merestui hubungan mereka.

Bagi ibu Jojo (didukung penuh oleh Jojo), meski merupakan wanita baik-baik, Juli (pasangan Jojo) bukanlah pilihan ideal
karena berasal dari ras yang berbeda. Juli harus merana sekian lama, membesarkan bayinya sendiri di sebuah kota kecil,
disokong oleh sang ayah yang sudah lanjut usia (ibunya sudah wafat).
Saat bayi lahir di rumah sakit, sempat terjadi rebutan antara keluarga Jojo dan Juli. Setelah mengetahui Juli melahirkan
bayi yang sehat dan menarik, keluarga Jojo mulai mendekati Juli dengan maksud agar mereka dapat memiliki anak
tersebut.

Akhirnya proses menuju perkawinan mulai dibicarakan meski Jojo selalu mengatakan sangat berat kalau harus menikahi
Juli. Sejak awal hubungan mereka terseok-seok. Jojo sering mengatakan Juli ”tidak ada apa-apanya” buat dia. Sebaliknya
ia selalu memuji ibu dan adik perempuannya. Ia bahkan sering melontarkan sumpah serapah penghuni kebun binatang
untuk Juli.

Juli sempat merasa sangat tidak berdaya dan takut menghadapi perkawinannya. Jojo mengharuskan keluarga Juli pun
patuh sepenuhnya pada rancangan ibu Jojo. Rencana Juli kuliah S2 (atas biaya sang ayah) dan membangun usaha
terancam batal karena ibu Jojo menginginkan Juli bekerja di kantor orang.

Sering ia mengajak berkonsultasi dengan rohaniawan, tetapi Jojo bilang, ”Semua konselormu nggak ada yang bener.”
Akhirnya Juli toh menemukan kekuatan. Meski pasangannya tetap berperilaku negatif, ia sudah cukup kuat dan mengerti
bagaimana menyikapinya. Itulah sebabnya ia memutuskan menikahi Jojo.

Sulit Mendapat Pasangan
Masih banyak kasus lain yang menunjukkan hubungan lekat ibu dengan anak lelakinya yang sangat eksklusif hingga
dewasa. Kasus lain yang unik terjadi pada pria lajang berusia 40-an tahun. Ia sulit menemukan jodoh karena terobsesi
akan ibunya. Ia terus menjadikan ibunya sebagai pusat hidupnya.

Setelah ibunya sakit, meskipun ada saudara-saudara lain yang dapat mengurus, ia tetap mengambil tanggung jawab,
termasuk memandikan. Ia memperlakukan ibunya seperti benda kesayangan yang mudah pecah, yang harus terus dijaga.
Sementara wanita lain yang sempat dekat dengannya dituntut untuk menjadi seperti ibunya.

Pria-pria yang tak sanggup lepas dari ibu umumnya sulit mendapatkan pasangan. Ia akan menuntut pasangannya sama
dengan ibunya. Mereka tidak mampu memberikan cinta secara dewasa karena sebenarnya mengalami fiksasi dalam
perkembangan, yakni tetap menjadi anak-anak yang memerlukan kasih sayang dan perlindungan dari ibunya.
Dalam menjalin hubungan cinta dengan wanita lain, cinta yang diberikannya berupa cinta kanak-kanak yang masih bersifat
egoistis. Konflik akan sering terjadi bila hubungan dengan pria semacam itu dilanjutkan ke jenjang perkawinan.

Konsep Kerja Cerdas

Mula-mula ekonom Itali bernama Vilfredo Pareto (1848 - 1923) itu baru setengah kaget dengan hasil penelitiannya. Bahwa
80% kekayaan negara hanya dinikmati oleh 20% kelompok tertentu dari penduduk. Dengan kata lain, 80% dari penduduk
hanya berkesempatan menikmati 20% dari kekayaan negara. Katakanlah kalau diasumsikan jumlah penduduk
seluruhnya mencapai 100 juta jiwa, berarti hanya 20 juta jiwa yang kaya raya dengan mendapat 80% kekayaan negara.
Sisa penduduk yang berjumlah 80 juta jiwa hidup pas-pasan karena kue negara yang hanya 20% harus dibagi-bagi.
Karena setengah kaget dengan hasil penelitian tersebut, Pareto kemudian mengadakan penelitian di lain negara, ternyata
hasilnya sama atau hampir sama.

Hasil penelitian Pareto ini sejak tahun 1897 akhirnya diresmikan menjadi sebuah rumus atau formula dengan berbagai
macam nama: Pareto Principle; The Pareto Law; The 80/20 rule; The Principle of Least Effort; atau The principle of
Imbalance. Konon karena Pareto dinilai kurang artikulatif dalam menjajakan temuannya ini berdasarkan perkembangan
metodologi dan konteks penelitian, akhirnya mendorong para pakar untuk ikut terjun melengkapi rumus atau temuan
yang dinilai sangat berguna bagi pencerahan peradaban manusia ini. Tahun 1949, George K Zipf, seorang professor dari
Harvard University, mengembangkan wilayah penelitian dengan menjadikan temuan Pareto sebagai acuan. Hasilnya
bahwa manusia, benda-benda, waktu, keahlian, atau semua alat produksi telah memiliki aturan alamiah yang berkaitan
antara hasil dan aktivitas dengan jumlah perbandingan mulai dari 80/20 atau 70/30. Contoh:

Karena dianggap memberi pencerahan, rumus tersebut lalu diterapkan ke dalam pengembangan pribadi . Ternyata para
pakar di bidangnya masing-masing menemukan sesuatu yang kira-kira sama dengan temuan Pareto. Artinya jika bicara
hasil, ketepatan proses, dan kualitas maka hal-hal tersebut erat hubungannya dengan how well atau how good are you
doing, bukan how often dan how long. Dengan kata lain hasil yang diperoleh ditentukan sejauhmana anda bisa bekerja
secara cerdas.

Beberapa contoh:
Dalam dunia bisnis, untuk merebut pasar anda harus berpikir minimalistis dalam arti ketepatan strategi yang tidak
melebihi kebutuhan pasar. Artinya temukan 20% dari strategi yang bisa merebut 80% daya tarik pasar dengan memberi
80% premiun solusi kepada 20% pelanggan setia. Jangan mengobral strategi yang justru menghabiskan 80% cost
padahal hanya akan menciptakan 20% rate of return (Mack Hanan, dalam Fast Growth Strategy, McGraw-Hill International,
Singapore, 1987).

Penelitian dalam hal efektivitas dan efisiensi waktu menemukan bahwa 80% prestasi seseorang di bidang apapun diraih
dari 20% waktu yang dikeluarkan. Dan 80% kebahagian hidup ditentukan dari 20% waktu yang digunakan untuk
mencarinya. Tanyalah pada diri anda, berapa jumlah waktu yang benar-benar anda gunakan dalam kaitan dengan tujuan
anda pergi ke kantor selain waktu macet, ngobrol, atau melamun, atau membicarakan persoalan lain dengan kawan
kerja? Jika jawaban anda ternyata menggunakan rumus yang sebaliknya maka anda tidak memiliki perbedaan dengan
orang lain dan itu smaa artinya bahwa anda belum menerapkan cara kerja cerdas.

Aplikasi Kerja Cerdas

Sebagai bangsa yang agamis sekaligus kaya budaya leluhur, sebenarnya seruan kerja cerdas ini bukanlah barang baru.
Tetapi persoalannya lagi - lagi berupa tools yang tidak di-update. Selain disampaikan dengan "bahasa langit" yang
seringkali menafikan proses pemahaman secara ilmiah dan alamiah pun juga tidak dilakukan elaborasi kontekstual.
Akibatnya pemahaman tentang ajaran agama dan budaya hanya bekerja pada persoalan yang bersifat minoritas dalam
kehidupan nyata. Sebelum Pareto mengumumkan hasil penelitiannya dengan formula 80/20, kita sudah diajarkan
menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan mubazir atau yang tidak perlu. Sayangnya, ajaran mubazir yang kita pahami
hanya sebatas kalau kita membuang makanan yang tersisa. Amat jarang kita berpikir mubazir secara profesi, ekonomi,
atau strategi.

Untuk menjauhkan diri dari tindakan yang mubazir dalam kaitan dengan realisasi kerja cerdas harus dimulai dari
langkah-langkah berikut:
1. Fokus pada skala pengembangan
Jika anda yakin bahwa diri anda memiliki keunggulan atau bakat alamiah, disamping memiliki kelemahan yang
diakibatkan oleh faktor heriditas atau lingkungan, maka yang benar-benar anda butuhkan adalah hidup dengan
keunggulan tersebut secara cerdas (living with the advantage competitive factors). Hanya jika anda menemukan strategi
hidup dengan keunggulan, maka anda akan keluar dari batas rata-rata prestasi lingkungan. Sebelum itu, paling maksimal
yang bisa anda capai adalah kualitas hidup seperti orang lain atau seperti yang diraih oleh sepuluh orang yang anda
kenal paling dekat. Lalu ke mana keunggulan tersebut diarahkan? Jelas, keunggulan itu harus diarahkan untuk
mengoptimalkan apa yang disebut dalam rumusan Pareto dengan 20% of determining factors (factor penentu). Oleh
karena itu, temukan apa saja yang menjadi faktor penentu keberhasilan anda dari sekian daftar kegiatan yang anda
lakukan dalam hidup. Tinggalkan hal-hal yang tidak perlu dan fgokuskan hanya pada hal-hal yang berpotensi untuk
pengembangan diri.

2. Berani Berkorban
Di dalam dunia yang sebesar ini terdapat sekian banyak "persoalan kecil" yang kalau anda tidak berani berkorban untuk
memaafkannya bisa jadi persoalan itu akan mendominasi muatan pikiran anda yang akhirnya bisa membuat anda
melupakan sisi keunggulan, cita-cita, fokus pengembangan diri, dan lain-lain. Contoh yang paling sederhana dan sering
terjadi di depan mata kita adalah ketika sedang di jalan raya. Di luar dari persoalan tabrakan serius, terkadang hanya
karena mobilnya tersenggol sedikit saja orang rela membuang banyak waktu dan kebahagiannya pergi ke kantor. Bahkan
bisa berkembang ke arah baku hantam. Padahal kalau dimaafkan (mau berkorban sedikit dengan kehilangan uang
beberapa ratus ribu saja untuk memperbaiki mobil yang lecet), maka semua urusan selesai.
Auditlah pikiran anda, persoalan apa saja yang kalau anda memaafkannya tidak akan merugikan anda secara misi atau
visi dan tidak mengganti isi pikiran anda dengan muatan negatif. Untuk mengetahui apakah persoalan yang sedang anda
hadapi tidak akan merugikan anda , gunakan standard audit berikut:
Apa saja yang menurut anda menjadi prioritas utama dalam kehidupan
Apa saja yang menurut anda didefinisikan sebagai persoalan penting dan tidak penting
Apa saja yang menurut anda didefinisikan sebagai persoalan darurat dan tidak darurat yang bisa jadi tidak penting dan
tidak prioritas
Apa saja yang menurut anda didefinisikan sebagai persoalan "sampah" - tidak penting, tidak mendesak dan bukan
prioritas utama. Namun dalam hal ini anda perlu menyeleksi secara ketat dan hati-hati, sebab bahayanya kalau anda
secara mudah memasukan persoalan ke tong sampah ini maka anda bisa terjebak untuk meninggalkan misi atau fokus
hidup hanya karena alasan mempertahankan posisi atau kondisi yang ada. Jika anda terjebak maka akhirnya rumus yang
terjadi bukanlah 80/20 tetapi sebaliknya.

3. Membuat Sekat Pembatas
Pada akhirnya anda harus menentukan batasan-batasan tentang apa yang ingin dicapai, bagaimana mencapainya, apa
modal yang dimiliki, dan akan kemana anda mengarahkan hidup anda. Dalam proses inilah terjadi seleksi dan
pengecualian. Dari sekian luas dunia dan isinya, apa saja yang telah anda seleksi menjadi hal yang benar-benar anda
inginkan sesuai format pondasi personal anda seperti: kiblat hidup, cita-cita, tujuan, target dan tindakan.
Semakin jelas anda memiliki format seleksi dan pengecualian, fokus pada pengembangan diri diiringi keberanian
berkorban dengan memahami, mengakui, membuang sesuatu yang tidak dibutuhkan dalam diri anda, maka akan
semakin jelas wilayah dunia yang menjadi "hak" anda sehingga semakin tersimpulkan apa yang menjadi determining
factors to success itu. Artinya faktor penentu semakin sedikit dan semakin sederhana dan biasanya yang sederhana itu
justru akan bisa bekerja optimal. Sementara yang cenderung pelik, ruwet dan kompleks biasanya mandul. Semoga
berguna.

Memilih Jurusan di Perguruan Tinggi

Ujian Nasional sudah diselenggarakan dan berikutnya adalah merencanakan dan menentukan langkah selanjutnya.
Apakah mau masuk perguruan tinggi, jurusan apa yang dipilih, dsb. Bagi anak yang sudah mengetahui apa bakat dan
minatnya dan terbiasa mengambil keputusan sendiri, tidak banyak mengalami kendala dalam memilih jurusan.
Masalahnya di masa ini banyak siswa SMA yang sulit ambil keputusan karena tidak tahu apa bakat dan minatnya, dan
banyak yang belum menemukan potensi dirinya, tidak terbiasa mengambil keputusan sendiri bahkan untuk hal-hal yang
terkait dengan kepentingannya, sehingga bingung ketika harus memilih jurusan dan perguruan tinggi. Belum lagi gaya
ikut-ikutan teman agar ketika kuliah sudah memiliki teman yang telah dikenal, atau juga karena mengikuti pacar.
Kebingungan siswa ada pula yang disebabkan sikap orang tua yang memaksakan anak memilih jurusan yang ditentukan
orang tua, bukan kemauan dan minat anaknya.

Dampak Dari Salah Memilih Jurusan

Banyak orang berpandangan, pilihlah jurusan yang gampang (gampang masuk dan gampang lulus), supaya gampang
dapat pekerjaan dan gajinya besar, regardless sesuai minat atau tidak. Sebenarnya pandangan ini perlu ditinjau ulang
karena memilih suatu jurusan bukanlah persoalan yang mudah. Dalam memilih jurusan, siswa perlu memperhitungakan
beberapa faktor seperti kemampuan, minat, bakat, kepribadian, dll. Salah memilih jurusan punya dampak yang signifikan
terhadap kehidupan anak di masa mendatang. Apa saja dampaknya ?

Problem psikologis

Mempelajari sesuatu yang tidak sesuai minat, bakat dan kemampuan, merupakan pekerjaan yang sangat tidak
menyenangkan, apalagi kalau itu bukan kemauan / pilihan anak, tapi desakan orang tua. Belajar karena terpaksa itu akan
sulit dicerna otak karena sudah ada blocking emosi. Kesal, marah, sebal, sedih, itu semua sudah memblokir efektivitas
kerja otak dan menghambat motivasi. Anak kemungkinan akan berusaha setengah mati supaya hasilnya baik, but at the
cost of his/her being. Dia mengabaikan panggilan hidupnya, perasaannya, demi orangtua. Kepahitan dan kegetiran,
marah, penyesalan dan penasaran bisa jadi membayangi setiap langkah hidup anak. Akan tambah sedih lagi ketika dia
melihat teman-temannya bisa berbahagia di atas kehidupan yang mereka pilih sendiri. Kalau anak yang dari keluarga
berduit, bisa saja dengan mudahnya pindah kuliah, tapi buat mereka yang ekonominya pas pas-an, ini bisa menjadi
dilemma berat. Kalau tidak ikut saran orang tua, anak merasa bersalah karena orang tua sudah susah-susah membiayai
kuliah, tapi kalau mengikuti kehendak orang tua, anak tertekan karena mengabaikan panggilan jiwa. Memilih jurusan
sesuai dengan saran teman atau trend, padahal tidak sesuai dengan minat diri juga punya dampak psikologis, yakni
menurunnya daya tahan terhadap tekanan, konsentrasi dan menurunnya daya juang. Apalagi kalau pelajaran kian sulit,
masalah semakin bertambah, bisa menyebabkan kuliah terancam terhenti di tengah jalan.

Problem akademis

Problem akademis yang bisa terjadi jika salah mengambil pilihan, seperti prestasi yang tidak optimum, banyak
mengulang mata kuliah yang berdampak bertambahnya waktu dan biaya, kesulitan memahami materi, kesulitan
memecahkan persoalan, ketidakmampuan untuk mandiri dalam belajar, dan buntutnya adalah rendahnya nilai indeks
prestasi. Selain itu, salah memilih jurusan bisa mempengaruhi motivasi belajar dan tingkat kehadiran. Kalau makin sering
tidak masuk kuliah, makin sulit memahami materi, makin tidak suka dengan perkuliahannya akhirnya makin sering bolos.
Padahal, tingkat kehadiran mempengaruhi nilai.

Problem relasional

Salah memilih jurusan, membuat anak tidak nyaman dan tidak percaya diri. Ia merasa tidak mampu menguasai materi
perkuliahan sehingga ketika hasilnya tidak memuaskan, ia pun merasa minder karena merasa dirinya bodoh, dsb hingga
dia menjaga jarak dengan teman lain, makin pendiam, menarik diri dari pergaulan, lebih senang mengurung diri di kamar,
takut bergaul karena takut kekurangannya diketahui, dsb. Atau, anak bisa jadi agresif karena kompensasi dari inferioritas
di pelajaran. Karena dia merasa kurang di pelajaran, maka dia berusaha tampil hebat di lingkungan sosial dengan cara
missal, mendominasi, mengintimidasi anak yang dianggap lebih pandai, dsb.

Bagaimana Memilih Jurusan Agar Tepat?

Memilih jurusan pada dasarnya merupakan sebuah proses yang sudah dimulai sejak masa anak-anak. Kesempatan,
stimulasi, pengalaman apa saja yang diberikan pada anak sejak kecil secara optimum dan konsisten, itu akan menjadi
bekal, modal dan fondasi minat dan bakatnya. Makin banyak dan luas exposure-nya, makin anak tahu banyak tentang
dirinya, tapi makin sedikit exposure nya, makin sedikit juga pengetahuan anak tentang dirinya. Menurut Gunadi et al (2007),
ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam melakukan pemilihan jurusan agar jurusan yang dipilih tepat, yaitu:

Mencari informasi secara detil mengenai jurusan yang diminati. Sebelum memilih jurusan, hendaknya anak punya
informasi yang luas dan detil, mulai dari ilmunya, mata kuliahnya, praktek lapangan, dosen, universitasnya, komunitas
sosialnya, kegiatan kampusnya, biaya, alternative profesi kerja, kualitas alumninya, dsb.Menyadari bahwa jurusan yang
dipilih hanya merupakan salah satu anak tangga awal dari dari proses pencapaian karir.

Anak perlu tahu realitanya, bahwa jurusan yang dipilih tidak menjamin kesuksesan masa depannya. Jangan dikira bahwa
dengan kuliah di jurusan tersebut maka hidupnya kelak past sukses seperti yang di iklankan.

Jurusan yang dipilih sebaiknya sesuai dengan kemampuan dan minat siswa yang bersangkutan. Jika seorang siswa
memilih jurusan sesuai dengan kemampuan dan minatnya, maka dirinya akan mampu bertahan dalam menghadapi
kesulitan-kesulitan selama kuliah, namun jika dirinya tidak memiliki kemampuan dan minat dalam jurusan yang dipilih,
bisa mempengaruhi motivasi belajar seperti yang telah dijelaskan di atas.

Berpikiran jauh ke depan melihat konsekuensi dari setiap pilihan, apakah mampu menjaga komitmen dan konsekuensi
kerja sebagai akibat dari pilihan itu? Di setiap pilihan pasti ada konsekuensi profesi, jangan sampai ingin punya status
tapi tidak ingin menjalani konsekuensinya. Jangan sampai ingin jadi dokter tapi tidak siap mendapatkan panggilan
mendadak tengah malam dari pasiennya; ingin jadi tentara tapi takut berperang; ingin jadi guru tetapi tidak sabar / tidak
senang disuruh menghadapi anak murid. Jadi, kalau sudah punya cita-cita, siapkan mental, fisik dan komitmen untuk mau
belajar menghadapi tantangannya.

Jurusan yang dipilih sebaiknya sesuai dengan cita-cita anak. Setiap anak pasti memiliki cita-cita. Jika anak bercita-cita
menjadi psikolog maka sebaiknya memilih jurusan psikologi bukan jurusan sosiologi atau yang lainnya. Jika ingin
menjadi dokter, ya harus mengambil kuliah kedokteran. Pelajari bidang studi yang mempunyai beberapa proses.

Misalnya, anak kelak ingin menjadi dokter bedah, maka terlebih dahulu harus menjalani kuliah di kedokteran umum.
Menyiapkan beberapa alternatif. Alangkah baiknya jika anak memiliki lebih dari satu alternative untuk menjaga jika dirinya
tidak masuk di alternative pertama, maka masih ada kesempatan di alternative berikutnya. Pemilihan alternative studi
harus pun diupayakan yang masih sesuai dengan minat dan kemampuan anak, bukan karena pilihan yang paling besar
kemungkinan diterima padahal tidak sesuai minat.

Mengoptimalkan peran sekolah, guru dan guru Bimbingan Konseling

Dukungan bagi anak selain dari orang tua, juga di peroleh dari guru di sekolah, baik guru kelas, guru mata pelajaran
maupun guru bimbingan konseling. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh pihak guru untuk membantu
mengarahkan anak didik mereka kelak dalam menentukan pilihan bidang studi / jurusan :

Mengamati dan mencermati perkembangan kemampuan intelektual murid. Kemampuan intelektual sangat penting di
masa kuliah, agar mudah menangkap materi dan meminimalisir hambatan yang berat. Kemampuan intelektual ini
biasanya dapat dilihat dari prestasi belajarnya selama di sekolah mulai dari catur wulan awal. Guru kelas bekerja sama
dengan guru bimbingan konseling memonitor perkembangan anak didik agar masalah yang terjadi di tengah jalan dapat
di tangani sebelum menjadi masalah yang berat.

Memberikan tes minat bakat menjadi salah satu cara untuk mengeksplorasi minat dan bakat anak. Tes minat bakat
biasanya dilakukan ketika anak masih belum dapat memutuskan ke mana minat dan bakatnya sementara banyak
alternative jurusan yang dapat dia pilih.

Memberikan penjelasan pada orang tua mengenai pemilihan jurusan dan bentuk dukungan untuk anak. Sejak awal mula
sekolah, para guru bisa menghimpun para orang tua untuk ikut mencermati kemampuan, minat, bakat anaknya supaya
baik orang tua bisa berpartisipasi dalam mengarahkan anak memilih jurusan yang tepat.
Memberikan bimbingan pada anak didik untuk tetap tekun dalam masa kuliah, mampu mendorong / memotivasi diri
sendiri serta mampu melawan virus-virus kebosanan yang muncul.

Menyiapkan mental anak didik dalam berbagai bentuk latihan dan tempaan, agar mereka tidak hanya siap materi namun
juga siap mental menghadapi tekanan dan tantangan yang akan dihadapi.

Sejak awal, peran sekolah ini sangat penting karena pola pikir, minat, prestasi anak sedikit banyak dipengaruhi oleh apa
yang ia peroleh di sekolah dan juga apa yang terjadi di sekolah. Misalnya, kalau sekolah itu berkualitas dan berprestasi,
maka anak pun akan memilih yang berkualitas, bukan yang sekedarnya atau seadanya. Apalagi, kalau sekolah tersebut
perlunya kerja sama dengan lembaga pendidikan lain, atau perguruan tinggi yang berkualitas baik di dalam maupun di
luar negeri, hal ini membuat anak punya benchmark universitas maupun target pilihan jurusan yang tinggi. Jika pihak
sekolah punya standard kualitas mutu yang tinggi, maka biasanya para guru juga akan mendorong anak didik mereka
untuk mencapai target yang tinggi (berkualitas) misalnya supaya bisa diterima di beberapa perguruan tinggi yang dikenal
terbaik dalam beberapa jurusan.

Mengoptimalkan dukungan Orang Tua

Peran orang tua sangat penting dalam mendukung anak menentukan pilihan dan jalan hidup mereka. Itu sebabnya,
sering dikatakan bahwa pada saat anak tumbuh remaja, posisi orang tua bukan lagi orang tua seperti dulu tapi lebih
sebagai teman. Orang tua bisa menjadi tempat curhat dan konsultasi yang nyaman, tanpa harus cemas kalau-kalau
mereka tidak punya hak suara. Di atas telah dijelaskan dampak psikologis, akademis dan sosial kalau orang tua lah yang
menentukan pilihan tanpa melihat minat dan bakat anaknya sendiri. Apalagi, dengan referensi informasi yang mungkin
sekali lebih terbatas dari anaknya, jangan sampai orang tua merasa pendapatnya paling benar padahal pendapatnya
berdasarkan informasi yang sudah kadaluwarsa, tidak up to date lagi. Selain itu, orang tua juga perlu mengevaluasi
motivasi dan ambisi nya masing-masing, karena tanpa sadar orang tua mengarahkan anak untuk menyelesaikan
"keinginan dan ambisi tak sampainya" di masa lalu. Padahal, anak itu bukanlah parent's extension. Dipastikan saja,
bahwa pilihan anak bukanlah karena ambisi orang tua, atau karena kecemasan dan cara berpikir yang keliru dalam
mempersepsi masa depan anak. Misalnya, anak memilih jurusan sastra karena mampu dan sesuai minat, tapi tidak
disetujui orang tua karena menurut mereka, akan susah cari kerja.

Orang tua perlu memastikan saja, apa motivasi anak memilih jurusan yang dia inginkan. Mengajak anak menganalisa
motivasi dan alasan, akan lebih menguntungkan karena anak akan mencoba menerapkan cara berpikir analitis yang
serupa ketika memilih dan memilah jurusan yang lain. Ajak anak untuk mencari contoh kongkrit (orang yang sudah lebih
dahulu kuliah dan atau kerja) dari dampak salah memilih karena sebab-sebab tertentu, misalnya : pengaruh teman,
suruhan orang tua, asumsi yang keliru.

Alangkah baiknya jika orang tua bisa membantu anak mencari informasi mengenai sekolah-sekolah yang berkualitas dan
membiarkan anak melihat plus minusnya secara kongkrit. Diskusikan secara terbuka factor apa saja yang jadi potensi
kendala dan bagaimana strategi solusinya. Dengan demikian, akan tercipta komunikasi yang terbuka dan positif, anak
merasakan dukungan dan komitmen orang tua, sehingga anak pun diharapkan tergugah untuk menjaga komitmen dan
keseriusannya terhadap pilihan studinya.

Mengoptimalkan peran social network

Punya banyak teman dan luasnya jaringan sosial bisa memberikan keuntungan positif. Baik orang tua maupun anak bisa
saling bertukar informasi dengan yang lain mengenai segala sesuatu yang berkaitan dengan pilihan studi.Kalau mencari
sendiri butuh waktu yang lama, maka kalau saling bertukar informasi, tentu akan lebih efektif dan efisien. Namun yang
perlu diingat adalah bahwa orang tua tetap harus obyektif dan rasional, karena salah-salah jadi mudah terpengaruh dan
terikut pendapat orang yang belum tentu benar. Yang kita cari adalah informasi faktual bukan gossip-nya.

Tak dapat dipungkiri bahwa untuk memilih suatu jurusan dibutuhkan pertimbangan yang matang serta kemampuan untuk
mengenali kelebihan dan kekurangan diri. Seiring dengan eksplorasi minat dan bakat, anak pun perlu di arahkan untuk
menjadi pribadi yang bertanggung jawab atas pilihannya. Anak perlu diajarkan untuk mandiri dan mampu memotivasi diri
sendiri, disiplin, dan serius belajar sebagai perwujudan dari komitmen atas pilihan hidupnya. Jika menjumpai kendala,
tidak mudah putus asa apalagi berhenti di tengah jalan atau ganti haluan. Semoga dengan pembahasan ini dapat
memberi manfaat.

Narasi Masa Lalu

Narasi masa lalu adalah lokus politik. Di dalamnya, narasi sejarah resmi yang mengagungkan keberhasilan rezim otoriter
senantiasa berhadapan dengan narasi korban, khususnya perempuan, yang membongkar banyak mitos dan fantasi yang
diproduksi rezim.

Seperti dikatakan sejarawan Hilmar Farid dalam lokakarya mengenai historiografi Indonesia di Yogyakarta beberapa
waktu lalu, narasi korban penting untuk memahami negara otoriter dengan pembangunan yang kapitalistik dan
kemungkinan mengubahnya.

"Kecenderungannya sekarang adalah menyelesaikan krisis politik dengan potensi mereproduksi modus-modus
otoritarianisme," ujar Agung Putri, Direktur Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (Elsam). "Ketika tak ada narasi lain
dari masa lalu dan tak ada usaha menuju ke situ, hal itu akan semakin mudah dilakukan."

Narasi korban peristiwa politik, khususnya peristiwa 1965, senantiasa berhadapan dengan kelompok, yang atas nama
apa pun terus berusaha menghentikan upaya itu.

Ini memperlihatkan upaya membentuk ingatan kolektif dan proses penerimaan identitas korban senantiasa diwarnai
ketegangan dan pertentangan. Baskara T Wardaya dari Pusat Sejarah dan Etika Politik Universitas Sanata Dharma
Yogyakarta menunjuk pada pelarangan buku sejarah yang tidak segaris dengan narasi resmi.

Pembakaran buku belum lama ini, menurut Ketua Komnas HAM Ifdal Kasim, juga merupakan usaha mempertahankan
penafsiran tunggal sejarah. Juga ancaman, somasi, atau apa pun bentuknya yang dilayangkan kepada pihak-pihak yang
berupaya menelusuri masa lalu guna mendapatkan gambaran yang lebih padu mengenai sejarah bangsa ini.

Gambaran yang terobek itu adalah sejarah tentang Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani), yang menurut ilmuwan politik
dari Universitas Cornell, AS, Ruth McVey, dihilangkan dari sejarah Indonesia meski berbagai fakta mengungkapkan,
sebelum tahun 1965 gerakan perempuan di Indonesia termasuk yang paling progresif di dunia.

Penelitian antropolog Belanda, Saskia E Wieringa, seperti dipaparkan dalam buku Penghancuran Gerakan Perempuan di
Indonesia (1999) menyimpulkan fitnah seksual 1965-1966 tentang kastrasi terhadap para jenderal dalam "pesta harum
bunga" itu tidak hanya bohong, tetapi juga menyatakan sesuatu tentang latar belakang oposisi seksual. Atas dasar itu,
konsepsi politik—dalam hal ini lahirnya Orde baru—bisa berlangsung.

Terus bersembunyi

Kebencian dan rasa jijik terhadap para mantan anggota Gerwani yang terus dikobarkan itu menciptakan situasi dramatis
yang berlangsung begitu panjang. Korban terus berupaya menyembunyikan identitasnya, bahkan kepada anggota
keluarga. Mereka menghindar dari sorotan media. Kalaupun bersedia mengungkapkan pengalamannya, mereka harus
membungkus identitasnya dengan ketat.

Hal ini bukan tidak beralasan. Rumah kontrakan almarhumah Sulami, salah satu tokoh Gerwani, dirusak massa tak lama
setelah namanya ditulis media sehubungan dengan kunjungan istri mantan Presiden Perancis, Ny Danielle Mitterand,
tahun 2000.

Sudjinah menolak ditulis profilnya di satu harian nasional ketika kumpulan cerita pendeknya, In Jakarta Prison, Life Stories
of Women Inmates diterbitkan Yayasan Lontar tahun 2000 karena takut tetangganya tahu siapa dirinya.
Padahal, menurut Agung Putri, ia adalah pelaku sejarah yang penting, khususnya dalam proses gerakan perempuan.
Sudjinah ikut berjuang dalam perang kemerdekaan. Ia berasal dari keluarga priayi Solo dan menyelesaikan studinya di
Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Sudjinah mewakili Gerwani dalam berbagai konferensi internasional, termasuk WIDF, the Women’s International
Democratic Federation. Ia kemudian menjadi penerjemah di kantor pusat karena kemahirannya menguasai berbagai
bahasa asing.

Sudjinah ditangkap setelah ketahuan menyebarkan informasi tentang apa yang dilakukan Orde Baru terhadap Bung
Karno, kemudian diadili akhir tahun 1970-an bersama empat perempuan tokoh lainnya. Ia dihukum penjara 18 tahun.
"Isolasinya delapan tahun," ujar Nursyahbani Katjasungkana, aktivis dan anggota DPR yang merasa beruntung pernah
mendengarkan kisahnya secara langsung.

"Di situ ia membuat gambar-gambar di tembok dan mengajak gambar-gambar itu bicara," sambungnya. Aktivis Ita Nadia
kehilangan kata-kata untuk menggambarkan kejinya perlakuan terhadap Sudjinah selama ditahan dan dipenjara.
Setelah keluar dari penjara, Sudjinah kembali bekerja dengan memberi kursus bahasa Inggris secara privat. "Uangnya
untuk membantu teman-temannya yang hampir semuanya hidup dalam kesulitan. Dia sebenarnya tidak harus bekerja
karena ada bantuan dari adiknya di Belanda," kenang pekerja kemanusiaan dan hak asasi manusia, Ade Rostina
Sitompul.

Sudjinah ditolak oleh keluarganya di Solo dan hidup dengan teman-temannya di panti jompo. Ia tutup usia pada usia 80
tahun tanggal 7 September 2007 di Jakarta dengan membawa sejarah yang belum selesai diklarifikasi, kebenaran dari
perspektif korban yang belum seluruhnya bisa diungkapkan, dan stigma yang terus menempel.
Kebenaran alternatif

Upaya mempertemukan perempuan korban ’65 dengan anggota Kongres Wanita Indonesia (Kowani) serta Dharma
Wanita, seperti diprakarsai Komnas Perempuan beberapa waktu lalu, juga tidak mudah. Mereka tampaknya masih
enggan berhadapan dengan para perempuan korban yang sudah sangat sepuh.

Bukan berarti upaya rekonsiliasi berhenti meski Undang-Undang tentang Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi yang
merupakan inisiatif negara sudah dibatalkan Mahkamah Konstitusi.

"Prakarsa-prakarsa rekonsiliasi di tingkat akar rumput seperti dilakukan teman-teman Syarikat Indonesia di Yogyakarta
dan oleh Komisi Sejarah akan menjadi alternatif dalam pencarian kebenaran masa lalu. Hanya dengan cara ini kekerasan
dan dendam bisa diputus," kata Ifdal.

Followers

Club Cooee
rachmanda by Informatika